Ada banyak cara untuk menjual suatu produk, salah satunya bisa dengan membedakan harganya dengan produk pesaing, entah Anda akan menjualnya dengan harga jauh lebih mahal dari rata-rata, dengan diskon di atas rata-rata, atau justru menjualnya dengan harga nol!
Menjual dengan harga nol, disebut juga dengan istilah keren Freeconomic. Beda dengan Freemium yang berarti Gratis sebagian, lalu bayar untuk seluruhnya.
Freeconomic dikoinkan oleh Chris Anderson, orang yang sama yang menulis The Long Tail. Berdasarkan hukum Moore yang mengatakan bahwa harga processor akan turun menjadi setengah harga setiap 18 bulan, dan juga semakin murahnya harga bandwidth. Menurunnya harga tersebut membentuk sebuah garis tren yang akan memperlihatkan bahwa lama-lama cost untuk melakukan bisnis online akan semakin mendekati nol.
Tentu saja masih ada ongkos produksi yang lain tapi jika dibandingkan, ongkos produksi di masa depan akan jauh lebih murah dengan ongkos produksi sekarang atau beberapa tahun lalu. Bedanya sangat ekstrim sehingga kita hampir bisa menganggap ongkos produksi ini sebagai nol.
Namun pada kenyataannya, saat ini Freeconomic ternyata tidak lagi mampu menjadi faktor penarik pembeli. Freeconomic tidak lagi mampu menjadi Purple Cow
yang membedakan suatu layanan terhadap layanan lain. Terlalu banyak layanan yang menawarkan konsep freeconomic sehingga semua tampak sama.
Free menjadi tidak selamanya menyenangkan, kita dihadapkan pada banyak pilihan yg seringkali membuat bingung. Hal ini membuat konsumen merasa kesulitan untuk mencari mana layanan yang patut dicoba. Ujungnya, kebingungan konsumen ini akan membuat produsen menerapkan strategi baru. Memang akan tampak lucu. Yang mulanya produsen menyuruh kita untuk membayar, bergeser ke “tidak perlu bayar”, lalu ke “iklan yang akan membayar”, dan akhirnya berakhir di “saya bayar kamu untuk mencoba”. Freeconomic kurang menggairahkan lagi karena tidak lagi cukup memberikan jaminan apapun, baik bagi produsen maupun konsumen.
“Free cannot be JUST free anymore” tulis Kate Bradley. Ingat, di pasar Freeconomic, Anda juga akan bersaing dengan Trent Reznor dan Radiohead. So, you need to beat Free. Kate Bradley juga menulis, Free yang baru adalah justru kebalikan dari Free itu sendiri. Atau dalam kata-katanya: F**king Expensive.
Contoh yang diberikan adalah bagaimana kita mau membayar lebih mahal untuk makanan yang organik, yang kita rasa akan sangat berguna bagi kesehatan kita. Harga mahal ini juga akan mencakup segala kelezatan dan rasa keren saat berjalan dalam toko yang mentereng. Gambaran lebih mudahnya mungkin bisa kita lihat dengan contoh BMW seri terbaru. Orang mau membayar mahal demi jaminan kualitas dan prestise.
“Harga tidak mungkin bohong” begitulah kata-kata ayah saya yang suka membeli produk-produk Cheap Non-Electronic Mass-Production asal China. Katanya, “barang murah itu kalau cepat rusak adalah wajar, yang penting selama belum rusak maksimalkanlah penggunaannya”. “Katanya lagi, “Jangan sayang-sayang pakainya, rusak tinggal buang dan beli lagi. Kalau mau awet kumpulin uangnya trus beli yg ada mahal sekalian”.
Ada harga ada barang. Barang-barang Free tidak berlaku di negara-negara dunia ketiga, atau jika saya berlebihan, cukup di Indonesia saja, dimana Uang adalah segalanya.
Segmentasi konsumen harus menjadi pertimbangan penting dalam menerapkan Freeconomic. Wong Cilik seperti saya sudah tentu akan sangat mendukung dan setuju akan adanya Freeconomic.
Prinsipnya selama gratis pakai aja, ntar kalau sudah harus bayar, cari lagi yang gratisan. Kontan saja orang-orang seperti saya tidak akan memperlambat tercapainya Break Even Point dari suatu Promosi.
Lain halnya jika Freeconomic diterapkan kepada segment konsumen yang konsumtif dan mempunyai daya beli, atau juga kepada segment konsumen yang melihat harga sebagai fator terakhir dalam memilih sebuah produk. Segment ini akan mendatangkan Revenue bagi penjual selama ada hal yang bisa menunjang Freeconomic tersebut.
Kata-kata “Free” telah menjadi senjata yang sangat berbahaya dalam sebuah kompetisi pasar. Bahkan tidak jarang para produsen dan distributor saling bacok harga untuk bisa memenangkan kompetisi. Jika harga sudah tidak bisa dipangkas, berikutnya yang dipangkas adalah Kualitas barang atau Kualitas Pelayanan.
Bagaimana dengan produk-produk dengan harga nol yang tidak memiliki nilai tambah bagi pembelinya ? Salah satu hal yang membiaskan strategi Freeconomic adalah barang yang ditawarkan itu sendiri.
Saya pernah ditawarkan thermometer gratis oleh salah satu toko yg menjual produk alat-alat kesehatan di sibuah mall di Jakarta. Selanjutnya saya diminta mengisi angket dan berhak untuk mengambil 1 kupon hadiah langsung, karena menurut SPB-nya saya adalah pengunjung kesekian. Ternyata saya mendapatkan sebuah pengharum ruangan aromatheraphy seharga 2jt-an yang bisa langsung dibawa pulang dengan syarat melakukan pembelian salah satu produk mereka.
Lucunya semua produk yg ditawarkan berharga di atas 12jt-an. Setelah menghabiskan kurang lebih 45 menit mendengarkan presentasi mereka mengenai setiap produk, saya tetap berpendirian teguh untuk tidak membeli satupun produk mereka. Saya pun pulang mengantungi 1 buah thermometer, yg saya cek di apotek dekat rumah, seharga 20rb rupiah. Omset 12jt-an ditambah biaya 20rb rupiah melayang hanya karena Freconomic telah disalah terapkan menjadi Free-to-throw or Free but Useles.

Freeconomics, berhasil atau tidak, bukan masalah besar. Intinya, seorang usahawan harus fokus pada nilai yang diberikan pada pelanggan. Opensource contohnya. Pada jaman ketika perangkat lunak semuanya harus bayar, semua orang langsung tanpa berpikir kritis percaya kalau nilai yang ada pada software adalah pada software tersebut. Semua developer lalu bikin program dan menjualnya. Sebagian sukses, kebanyakan gagal.
Opensource menggeser paradigma itu. Ternyata dalam beberapa sektor, perangkat lunak bukan nilai tambahnya. Sebenarnya apa yang dibutuhkan pelanggan adalah hal lain. Linux itu gratis. Tapi Redhat berhasil membangun sebuah bisnis dengan sebuah sistem operasi gratis. Dari versi enterprise sampai training, support dan layanan lainnya.
Kalau dibilang free itu telah berakhir, memang terlalu sensasional. Informasi dan apapun yang gratisan sekarang banyak sekali. Perlu usaha yang sama besar seperti menjual barang non-gratis untuk menembus derau dan menyampaikan pesan ke (calon) pelanggan. Tapi itu bukan berarti free tidak lagi berguna. Orang-orang malah mengharapkannya.
Dahulu ketika era desktop, Microsoft berjaya dg software propertiary-nya yg berbayar. tapi sekarang keadaan telah berbeda. sekarang jamannya internet, banyak sekali hal-hal yang ditawarkan secara gratis. Merk-merk terkenal seperti Google, Amazon, Yahoo, Facebook, Twitter dan e-bay semua menyediakan layanan gratis. Tanpa freeconomics, pasti internet tidak akan bisa seperti saat ini. Begitu pula dengan domain gratis dan download stuff gratis yang juga sudah marak di Indonesia.
“Oh… ada software baru? Coba saya tes dulu apakah cocok.. Apa? Tidak gratis? Bahkan tidak ada free trial? Selamat tinggal.”

Ke depannya, gratis juga harus bermutu. Gratis juga harus mengena. Gratis juga harus disebarkan dengan strategi yang sama. Kembali lagi adalah masalah komunitas, bagaimana memanfaatkan komunitas untuk menyebarkan apa yang kita punya.
Strategi gratis memperendah barrier to entry, lalu dengan informasi yang berlimpah dan berkesinambungan membangun nilai dari produk. Bagi ahli pemasaran, inilah product funnel.
Cuma, funnel ini lebih berubah. Alur tidak selalu dari atas ke bawah. Bisa saja seorang langsung membeli produk dengan harga termahal. Inilah yang bagi sebagian besar bisnis masih belum diaplikasikan ke dalam proses penjualan.
Strategi di atas dapat dipakai untuk semua kalangan termasuk perusahaan kecil dan menengah, atau bahkan untuk bisnis pribadi seperti blogger.
Untuk brand yang sudah jalan dan besar, gratis tetap dapat dipergunakan. Bayangkan jika fans BMW yang sedang berdebar-debar menunggu launching seri terbaru, diundang ke acara “gratis” perkenalan seri tersebut.
Test drive gratis, tanya jawab gratis… makan malam yang exclusif khusus tamu terhormat (yang mana merupakan pelanggan tercatat) dan interaksi. Bukan saja hadirin akan semakin terikat dengan brand tersebut, tapi juga diyakinkan penjualan akan laris manis pada acara tersebut.
Siapa bilang gratisan berarti murahan? Semuanya tergantung positioning yang baik. Jadi, gratisan dan premium itu sebenarnya berteman baik.
Free economics mungkin akan berakhir bagi negara-negara yang memang udah punya kemampuan untuk memilih apa yang baik buat mereka, karena memang daya beli mereka tinggi. Untuk negara-negara berkembang,seperti Indonesia,sepertinya barang gratis akan tetap jadi daya tarik yang “mengagumkan” untuk memasarkan sebuah produk.
“…kita mau membayar lebih mahal untuk makanan yang eco-friendly, yang kita rasa akan sangat berguna bagi hidup dan kesehatan kita. Harga mahal ini juga akan mencakup segala kelezatan dan rasa keren saat berjalan dalam toko yang mentereng.”
kita disini siapa?orang-orang barat sana yang sadar lingkungan, sadar akan pentingnya makanan organik? coba bandingkan orang-orang di Indonesia, ada label diskon 50% saja seperti melihat durian runtuh, apalagi ngeliat barang gratis.
contohnya saja kalau belanja di supermarket, ada poster “BELI 2 DAPAT 3″,yang tadinya cuma mau beli 1 malah jadi beli banyak,dengan dalih buat cadangan. Sama ketika saya membeli sebuah kemeja di sebuah Department Store dengan label “Gratis 1 setiap 2 pembelian”. Dengan niat untuk berhemat sedari meninggalkan rumah, alhasil saya menghabiskan biaya cukup besar untuk membeli 2 kemeja, dimana sampai saat ini salah satunya masih terbungkus rapih.
Pada kenyataannya untuk negara-negara berkembang, barang gratis itu seperti air di gurun yang panas dan kering.
Begitu juga dengan gratis iuran tahun pertama yang marak ditawarkan oleh Kartu Kredit belakangan ini. Apakah ini salah satu bentuk penerapan dari Freeconomic ?
Menjadi berbeda merupakan hal yang memang harus dimiliki dalam bisnis, tidak terlepas dari segi harga. Semakin murah suatu barang maka permintaan akan semakin tinggi, tentunya dengan kualitas yang baik. Harga menjadi tidak berarti, mungkin dikarenakan keberadaan barang komplenter yang semakin banyak.
Untuk segmen masyarakat tertentu, tentunya menjadi berbeda merupakan hal yang diinginkan. Dengan membeli sesuatu yang mempunyai prestise tinggi (cenderung mahal) tentunya akan membuat ia berbeda. Tapi perlu digarisbawahi bahwa ini hanya untuk segmen masyarakat tertentu dimana semua kebutuhan dasarnya telah terpenuhi.
Kita lihat Indonesia sekarang, segmentasi masyarakatnya seperti jam pasir, atas dan bawah besar namun bagian tengah kecil. Jadi dapat dikatakan bahwa kalangan atas mengejar prestise setinggi-tingginya tanpa mempertimbangkan harga, namun golongan tengah dan bawah masih sangat tergantung dengan harga. Bagi golongan bawah, freeconomic masih merupakan anugerah dan mereka cenderung untuk memilih hal itu.

Kesimpulannya, Freeconomic isn’t free, it’s transferring the Cost to someone/somewhere else.

Great post, jeff! Nice to read it.
thanx for visiting Den…
i like your post on When is Free going to be real free ?
after sometimes thinking bout Freeconomics and Freemium… somehow i feel like we are slowly become a part of a bigger cons on the world wide web… hehehehe